Pencarian
April 14, 2009
Benernya ini dibuat saat aku sering keliling pulau Bali mengisi weekend, dan sesaat setelah aku sholat di pantai Nyang-Nyang. Pantai terpencil yang sungguh elok, juga kubikin saat sedang membaca buku ‘Ketika Cinta Bertasbih’
————————
Karena kami ingin melihat alam bertasbih, dengan keindahannya.
Pada angin semilirnya, pada tiap gulung ombaknya, pada setiap terik mentari.
Kami ingin bersama-sama bertasbih, untuk memberi kami lebih banyak arti dari hidup.
Dari tiap tapak yang kami lesakkan ke pasir pantai yang lembut, kami ciptakan sebuah jejak bagi jiwa kami yang terus mencari.
Mencari di setiap ceruk ruang, diantara batas antara laut dan langit.
Semua alam ini milik-Mu, pada ruang lepas di angkasa raya, pada samudra luas dengan ombaknya, atau bahkan pada relung sempit diantara kerang-kerang mati.
saat kami tak bisa lagi menapak lebih jauh, hanya cakrawala yang tertoreh resah di kejauhan sana, kami menghadap-Mu.
Kami menghadap-Mu ya Tuhan, di ujung dunia, seperti kami nanti juga menghadap-Mu di ujung usia. Semua tanah ini adalah sajadah, dan kami manusia lemah dihadap-Mu.
Menatap kebesaran-Mu, dari ciptaan-Mu. Dan andaikata kami bisa, tentu kami telah terbang mengembara ke tempat yang lebih jauh.
Tempat yang lebih tinggi, agar kami bisa melihat lebih luas, sehingga hati kami penuh dengan rasa takjub atas kuasa-Mu.
Dan kami berkejaran dengan waktu, sebelum kami mati, sebelum raga ini melapuk.
Berikan kami kekuatan pada setiap detak jantung, pada setiap desah nafas untuk memuliakan-Mu. Untuk mengenal-Mu.
Sudahkah kami ingat darimana kami berasal? Kami mencarinya, dan karena pencarian itu, kami berkelana.
Tunjukilah kami jalan yang lurus
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.
Api yang tak kunjung padam
April 14, 2009
Jika kita menengok tentang stamina dari idealisme seseorang, kita akan menengok pada Gandhi. Seberapa lama waktu yang dibutuhkan hingga ’satyagraha’ mampu untuk membariskan orang sejauh 400 KM? Dia, Mohandas Karamchand Gandhi, menang karena kembali berjalan setelah jatuh tersandung, karena dia bangkit setelah melalui beberapa kegagalan.
Aku yakin, pada tanggal itu, 12 Maret 1930, dia mulai berjalan dari Gujarat hanya dengan beberapa orang. Suatu langkah sederhana, meninggalkan jejak yang sedemikian panjang. Mengajak sedikit demi sedikit, orang per orang, dan akhirnya menggerakkan sebuah negara. Ribuan langkah rakyat, yang menyatu dalam satu tujuan, pada akhirnya menjadi sebuah bentuk kekuatan luar biasa. Keberhasilan seperti itu begitu mudah diingat, namun ingatkah kita berapa dosis suplemen semangat yang perlu dikonsumsi? Berapa besar kekuatan untuk menjaga idealisme? Berapa kegagalan yang harus dialami? Namun sebanyak kegagalan yang dia alami, sebanyak itu pula bangkit dan kembali berjalan. Dan kata-katanya masih bergaung: “Biarkan pemerintah menegakkan peraturan, menggunakan senjata untuk melawan kita, mengirim kita ke penjara, atau menggantung kita, tapi berapa besar arti hukuman? Coba dan hitunglah berapa banyak waktu yang dibutuhkan penguasa Inggris untuk menggantung 300 juta orang.”
Ada begitu banyak orang memang yang dengan tujuan baik tiap kali jatuh, kembali bangkit, dan kembali jatuh hingga akhirnya, seperti kata Chairil, pada akhirnya menyerah. Tetapi mereka telah mencoba, sekali berarti sudah itu mati, juga kata Chairil. Setelah berhasil membentuk sebuah Medan Priyayi dan Syarikat Dagang Islam, RM Tirto Adi Suryo akhirnya kalah. Kisah lindapnya kejayaan Tirto Adi Suryo ini, begitu indah diceritakan dalam tetralogi Buru. Namun hidup memang selalu terdiri dari menang dan kalah, hanya mereka yang punya tujuan dan tekad, merekalah yang hidup. Mereka yang punya idealisme dan bisa menjaganya hingga akhir, merekalah yang berhak mengklaim sebagai ‘agent of change’. Dia memang tidak terlalu dikenal hingga saat ini, dia memang tak tercatat sebagai seorang pahlawan, tapi dia memulai saat yang lain masih tenggelam dalam mimpi.
Dan 9600 kilometer bukanlah jarak yang dekat, mungkin karena itu pula, dia Mao Zedong berkata bahwa revolusi bukanlah sebuah jamuan makan. Jarak yang hampir 10 ribu kilometer itu terpaksa dia tempuh setelah mengalami kekalahan. Revolusi, perubahan, adalah sebuah proses yang berisi kekalahan dan bangkit kembali. Adalah sebuah perjalanan, dan pasti berisi pengorbanan. Semua itu hanya untuk membuat seribu bunga mekar.
Ide, kadang memang tampak sebagai sebuah hal yang konyol. Dan orang yang menjalankan ide tersebut, sering juga bisa dianggap gila. Namun semua akan serentak diam ketika ide yang konyol itu meraksasa, membawa kebesaran. Mereka yang pernah membaca buku tentang makro ekonomi pun, mungkin tidak memahami potensi ibu-ibu rumah tangga yang diam dirumah. Memang untuk hitungan personal, berapa besar sumbangan prosentase yang dapat mereka berikan bagi peningkatan ‘Gross Domestic Bruto’ sebuah negara? Namun, para ibu-ibu yang bergabung dengan Grameen Bank itu, mengangkat grafik, meningkatkan kesejahteraan. Ibu-ibu rumah tangga itu tidak datang dengan sendirinya, mereka dijemput oleh para petugas Grameen yang berjalan berkilo-kilo. Perdamaian tercipta, seperti ‘three cups of tea’ di pegunungan himalaya.
Perjuangan masih panjang, dan mereka semuanya menemukan kejayaan. Apakah kita masih tidak mengakui bahwa mereka semua berhasil mengais kejayaan karena mereka semua telah berjalan? Karena mereka selalu bangkit dari kejatuhan. Karena mereka akan bilang 10 ribu kegagalan sebagai penemuan atas 10 ribu jalan yang buntu, sehingga dia terus mencari jalan yang lain. Mereka adalah yang tak lekang semangat hanya karena sebuah kekalahan. Karena mereka percaya ada puncak gunung yang mesti didaki sebelum sinar mentari lindap tenggelam di cakrawala.
Kuta, 13 April 2009 dan Sanur, 14 April 2009
Berbagi
March 24, 2009
Posting dari draft yg udah lumayan lama. rada ngawur seh, nyoba2 aja
===================
Pantai Kuta – Lombok
Sejarah berawal dari sini, dari sebuah bukit di pantai Kuta, putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut. Dia berikrar, bahwa dirinya akan dimiliki oleh semua masyarakat Lombok. Dan dari situlah legenda menyebar.
Aku berdiri di puncak bukit itu, sendiri. Debur ombak di bawah sana, memecah sunyi. Angin begitu kuat, hingga aku berpikir tubuhku yang kurus ini bisa diterbangkan angin. Dalam kesendirian itulah, diatas puncak tersebut, tempat yang tepat untuk bersetubuh dengan nasib. Nasib dan diriku menjadi sedemikian intim, manunggal nyawiji, dan itu justru terjadi di tempat yang begitu sepi dan jauh dari suatu tempat yang kusebut rumah. Saat aku merasa sendiri, saat itulah nasib berbisik diantara bunyi ombak dan deru angin, “Aku ada disini, bersamamu, disampingmu, dan akan selalu begitu”.
Engkau nasib, kepada siapa kamu berpihak, tanyaku.
“Aku tidak dimiliki siapapun, namun aku memiliki siapapun. Aku tak berpihak pada apapun, kecuali pada diriku sendiri”, nasib bicara seperti sebuah angin yang melintas, namun begitu jelas terdengar.
Aku yang masih terengah ketika mendaki bukit, mendapati tanyaku diantara sengal. Dapatkah kau cerita padaku tentang dirimu berhubungan dengan aku?
“Diriku adalah bayangan yang berwujud, mengikutimu dari tempat yang paling terang, hingga pada kegelapan total. Aku tahu ceritamu dari sebelum apa yang kau sebut awal dan lebih daripada yang kau sebut dengan akhir. Namun aku takkan bicara padamu tentang dirimu, karena aku juga sebuah wujud dalam bayangan, aku adalah kegelapan hijab halimun yang akan segera hilang jika sinar pencerahan telah menyebar. Dan rahasia pada diriku tentang dirimu, adalah lukisan abstract Maha Maestro yang tak terjemahkan, yang akan memberimu kekuatan dan semangat menjalani hidup.”
Kami terdiam beberapa saat, aku masih mencoba mengeja kata-kata yang diucapkannya. Menyatukan tiap huruf, tiap kata, menjadi sebuah kalimat yang terangkai bermakna. Dan saat sedikit demi sedikit aliran makna mengalir dalam otakku, aku sadar, ada dunia yang lebih luas daripada lautan Hindia di depanku ini.
Apakah ini yang dirasakan Bima didalam tubuh Dewaruci? Didalam telinga orang kecil itu, tersimpan dunia yang luar biasa luas dan nyata. Lalu betapa banyak orang yang telah mengisi dunianya dengan congkak dan culas, hingga dia merasa dunia begitu sempit terhimpit benda-benda.
Nasib memiliki semuanya, namun ia sekaligus tak memiliki apa-apa. Dia adalah sebuah kehampaan, namun tetap bisa disebut. Kadang juga bisa dipersalahkan. Lalu kenapa lebih banyak yang ingin untuk memiliki semuanya? Tidak bisakah kita seperti Putri Mandalika yang ingin dimiliki semuanya? Namun saat menjawabnya, kita menampar wajah kita sendiri.
Dan ketika aku menuruni bukit, saat malam mulai merayap. Ombak tak pernah berhenti, angin tetap mengalir, dan sejarah tetap berjalan.
Mentari tenggelam untuk kembali terbit di esok hari…
Kepahlawanan yang pudar
February 22, 2009
Negara ini dilahirkan dari ujung bedil, dari darah pahlawan yang mengering, dari keringat-keringat perjuangan yang menguap. Lahir dari jiwa-jiwa yang pantang menyerah untuk sebuah cita-cita yang besar, yang mengisi hatinya dengan semangat membara, yang merelakan dagingnya menjadi santapan pelor penjajah. Perang, dalam masa itu, merupakan pilihan terbaik, perdamaian, adalah impian yang dibangun dan diawali dengan perang untuk kemerdekaan tersebut. Kita semua tahu, mimpi itu telah tercapai, tetapi sekarang ada mimpi yang lain, dan mimpi tentang kemerdekaan bukanlah mimpi generasi ini, mimpi tersebut sudah basi, sebaiknya diceritakan sebagai dongeng di pelajaran sejarah, atau mungkin disebuah buku berdebu di perpustakaan Negara.
Kita sering suka lupa akan besar jiwa mereka, para pahlawan tersebut. Kita lebih suka mendambakan pahlawan yang lebih modern, lebih elit, berjas rapi yang turun dari sebuah limousine, yang memegang sebuah gadget paling modern. Kita tidak membutuhkan fosil sebagai bentuk pahlawan, atau nama-nama yang terukir di prasasti-prasasti yang ditulis diatas marmer kusam. Dan kita tahu juga, pemikiran seperti ini tak akan mengoyak mereka, toh mereka sudah tidak ada lagi hati dan daging. Kita ini generasi kurang ajar, generasi malin kundang pada ibu sejarah, ibunya para pahlawan.
Sudah lagi tak ingat kebesaran sebuah bangsa adalah penghargaan kepada para pahlawannya. Rumus lain penilaian kebesaran bangsa telah dibangun, peran para pahlawan disisihkan. Bukankah para pahlawan kini cuma pantas sebagai iklan politik lima tahunan? Dan mungkin beberapa tahun lagi, artis akan sebagai ganti para pahlawan tersebut. Mereka yang cantik, yang cakep, memang terlihat lebih enak dilayar kaca, bisa lebih menabur mimpi. Dan wajah yang bersih itu terasa lebih dekat dari mereka yang telah terbenam di kalang tanah.
Aku masih ingat beberapa, gambar-gambar pahlawan Nasional di buku sejarah waktu masih SD. Ada yang memegang keris, bambu runcing, mandau, dan tombak. Mereka tampak jauh, ruang kosong waktu terbentang lebar diantara aku dan wajah-wajah itu. Dalam imajinasiku mereka berkata dengan nada sendu “Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi, tak bisa teriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi…”. Suara itu kini semakin lemah, terserak diantara deru sinetron dan iklan pemilu.
Mereka mungkin tak minta harga, mereka menjual murah nyawa dengan berharap bahwa akan ada masa depan yang lebih baik bagi anak cucunya, bagi generasi-generasi baru yang lahir dari udara kemerdekaan, bagi sebuah bangsa yang akan disegani diseluruh dunia. Apakah mereka terlalu banyak berharap?
Nada suara mereka makin muram saat berkata “…Kami sudah coba apa yang kami bisa, tapi kerja belum selesai, belum apa-apa…”
Apakah mereka putus asa ketika spongebob dan Patrick lebih dikenal oleh bocah-bocah daripada nama mereka?
…………………
Tak peduli harga
Tak peduli nyawa
Lahirku di depan mata
Kecewalah para pengelana, yang sirna dibelantara.
Violachie
Kuta, Pebruari 2009
sejarah tentang sejarah
February 18, 2009
Mencoba memposting draft yang mengendap dari agustus 2008
……………………………………………………………………………………….
Sejarah, baik berupa keberhasilan maupun kegagalan selalu memberikan pelajaran. Bukankah selain pengalaman adalah guru yang terbaik, kita juga pernah mendengar kelebihan orang tua adalah mereka memiliki kesalahan yang tidak dimiliki seorang muda. Sejarah memberi kita pengetahuan tentang bagaimana sebuah kesuksesan masa lalu diraih, atau sebaliknya dapat menghindar dari kesalahan dan kegagalan masa silam.
Sejarah selalu menyajikan sebuah kisah, terlepas benar atau tidaknya. Herodotus of Halicarnassus, konon dia disebut sebagai father-nya history, pun mengakui bahwa sejarah yang dia tulis hanyalah pesanan penguasa. Tetapi dengan semua itu, bukankah berarti jika belajar pada sejarah hanya akan berkaca pada cermin buram dengan bayangan yang terpendar? Lalu dimanakah JAS MERAH yang sempat berdengung?
Sejarah adalah kekuatan lain dari sebuah kekuasaan. Sebuah legalitas dari sebuah keputusan. Seringkali pengesahan sebuah tindakan dibarengi dengan manipulasi sejarah. Andai saja Ki Ageng Pemanahan tidak meminum air kelapa muda yang keramat itu, keturunannya bukanlah raja-raja “yang direstui” di tanah jawa. Napoleon bikin patung gajah yang besarnya segajah (seperti disinggung singkat oleh Victor Hugo dalam Les Miserables sebagai sebuah misteri) untuk mencoba menghapus ingatan sejarah dan memancangkan propaganda kebesaran tahtanya. Namun sayang sekali, sejarah kelam begitu alot tercerna dan akhirnya kaisar 100 hari itu jatuh dari tahta.
Jika kita menilik dari kitab suci agama-agama samawi, orang pertama yang lahir ke dunia adalah Nabi Adam. Entahlah sudah berapa ribu tahun semenjak itu hingga abad ke 21 ini seberapa panjang benang sejarah kemanusiaan telah dibentangkan, kadang kusut disana-sini dan bercabang, sejarah memang tidak mengenal shampo dan rebounding.
Sejarah dalam arti sesungguhnya adalah pengalaman, walaupun pribadi, setiap orang. Sejarah yang valid seharusnya mencakup semua hal, baik kisah yang dialami seorang raja, maupun seorang gembel. Hanya saja manusia cenderung untuk melihat sebuah hal yang wah, mewah, berkuasa, menggetarkan, berdarah-darah, dan tentu saja juga menggoda. Dan kisah-kisah mereka dari golongan kasta rendah, hanya tersimpan dalam memori otak mereka sendiri yang segera akan hilang bersama kematian. Yah boleh dibilang paling banter buat anak cucu lah, ga lebih.
Semua orang dari tiap strata berusaha merangkak ke strata di atasnya, menjangkau mimpi dan harap. ada yang jatuh, hancur. Namun ada yang berhasil menggapai puncak, menyematkan bintang dirinya di angkasa raya sekaligus juga menuliskan kisahnya dalam sejarah dengan tinta emas. Diantara buku-buku tebal yang berdebu di perpustakaan dan museum, ada kisah yang tak disebut. Kisah yang diam, terbuang, meski sebenarnya memberi lebih banyak pelajaran.
Berilah sejarah sebuah bentuk, tempatkan dirimu diatasnya, dan itulah jalan menuju singgasana…
desk tag
January 16, 2009
Dapat Pe Er dari Sasha, buat menceritakan gimana keadaan meja kerjaku. Sepertinya saya tak bisa bercerita banyak tentang apa yang ada di meja kerjaku, dan taburan harapan apa yang ada disitu.
Seperti yang banyak diketahui, kantorku berada di daerah Pantai Kuta, dimana gejolak kehidupan menderu bersama ombak, tempat dengan pasir putih lembut yang membelai kaki setiap orang dari seluruh dunia, menyesakkan mimpi dan kenangan bagi berjuta orang. Namun, satu kilometer dari situ, di meja kerjaku, di cubicle ku, tak ada kehidupan. Dengan semua bukti itu bukankah saya bisa memaklumatkan bahwa dunia ini penuh ketimpangan?
Meja kerjaku terdiri dari dua sisi, bisa dibilang depan dan dan samping. Komputer kadang ada di meja depan, kadang di meja samping, tapi yang pasti kedua meja tersebut adalah juga sekaligus meja makan, ketika diatas meja salah satunya terdapat piring dan nasi bungkusan yang sudah mulai dingin, di meja yang lain gelas minum dan buah tersaji, suatu pesta kecil naïf yang dipaksakan. Eh, ada juga tumpukan kertas bekas dari hasil print atau photokopi yang gagal, yang tiap hari kerja selalu tak berantakin, dan membuat risih OB yang mesti kembali ngerapiin.
Hiasan? Tidak ada hiasan sama sekali, yang juga ada cuman print-print an task yang kadaluarsa di dinding cubicle belum dicabut. Bukankah sebelumnya sudah saya katakan ga ada kehidupan di meja itu, lalu kenapa mesti ada hiasan?
OK, sekarang berganti topik soal komputer kerjaku, komputer itu terdiri dari tabung kaca cembung dengan teknologi jaman penjajahan. Jikalau sedang menampilkan gambar sebuah bola bumi, akan terasa nyata bulatnya. CPU nya sendiri punya kecepatan setara seorang prajurit yang merayap diantara hujan mortir dan desing peluru.
Tetapi itu semua tak berarti tak ada positifnya, karena dari meja itu, dari gaji yang kuperoleh tiap bulannya, aku bisa membiayai ruangan mimpi yang lain, yang terbentang lebih luas dari sebuah cubicle hampa.
Note: Sorry ga ada kamera, so ga ada photonya
Yang pada pingin di tag, silahkan bikin resolusi sendiri di komentar ^_^
Arti sebuah kemenangan
January 11, 2009
Bagi yang sedang berjuang…
Disuatu jaman yang jauh, disuatu tempat yang juga jauh, di dataran Cina, ketika negara itu masih berbentuk sebuah monarki. Sebuah kelompok bersenjata yang dipimpin oleh seorang yang bijaksana, mengembara keliling Cina untuk menciptakan perdamaian. Pimpinan tersebut selalu menjadi seorang penengah pada semua pihak yang bertikai, menjadi seorang negoisator, mencoba menjadi kelambu diantara dua nyala mata yang saling mengancam.
Sebilah baja bisa ditempa untuk menjadi sebilah keris, namun kadang hati seseorang bisa lebih keras dan kaku, dan tak ada empu yang sanggup melunakkannya. Pada saat perang adalah satu-satunya pilihan dari dua kelompok yang sedang bertikai tersebut, maka sang pemimpin kelompok bersenjata tadi akan datang pada kelompok yang lebih lemah, membantu melawan kelompok yang lebih kuat, sehingga sedapat mungkin diantara dua kelompok bertikai tersebut tercapai keseimbangan kekuatan. Pemimpin tersebut percaya, semakin berat sebuah kemenangan diraih akan menjadikan hati seseorang menjadi lebih bisa menghargai yang lain.
Menang tanpa ngasorake, itulah pepatah jawa yang telah terdengar dari masa yang juga telah jauh. Menggema sedemikian hingga saat ini. Menang tanpa menghinakan yang kalah, bukanlah berarti suatu bukti kelemahan, justru sebuah bukti kebesaran jiwa. Memang hal seperti itu langka saat ini, namun bukankah umumnya yang langka itu mahal dan bernilai? Sejarah yang berkesan yang kukenal sebagai perwujudan pepatah ini adalah saat pidato Douglas MacArthur di atas USS Missouri. Dengan tanpa tanda pangkat dan bintang di pakaiannya, dia berkata:
“…But rather it is for us, both victors and vanquished, to rise to that higher dignity which alone befits the sacred purposes we are about to serve…”
Kita ada di bumi yang sama, saat senjata-senjata menjadi bisu, dan perdamaian tercipta, itulah kemenangan kedua belah pihak, kemenangan seluruh umat manusia.
Menjadi seorang pemenang, dan tetap menjaga kepribadian dititik paling suci adalah lebih berat daripada mencapai kemenangan itu sendiri. Kemenangan bukanlah perubahan yang kita maksud, namun adalah kesempatan untuk melakukan perubahan yang telah kita idamkan, dan kata-kata ini begitu menggema belakangan ini, kita tahu mengapa. Kemenangan sendiri bukan sebuah hasil, itu sebuah proses dengan derap langkah yang terus menggema menuju keadaan yang lebih baik. Kemenangan adalah sebuah sayap yang terus mengepak, kemenangan adalah sebuah mesin yang terus menderu. Kemenangan bukanlah saat bendera telah ditancapkan di Iwo Jima, atau ketika proklamasi dibacakan, kemenangan adalah ketika kita berhasil menjaga tindakan kita sesuai dengan harapan dan cita-cita yang telah ditetapkan. Kita bisa bercermin apa yang dikatakan seorang Aristotle pada Iskandar Zulkarnanen, “Bukanlah sepotong hari cerah dan seekor burung layang-layang yang menjadikan sebuah musim dingin menjadi musim semi”
Namun pada akhirnya kita masih bertanya, Shinta yang berhasil direbut Rama sebagai lambang kemenangan kebenaran melawan keangkaramurkaan, kenapa mesti dibakar dan dibuang? Akankah itu berarti pertanyaan akan terus ada, seiring dengan kemenangan itu sendiri?
harga iman dan cinta, adakah?
August 13, 2008
Di sebuah tempat yang biasa kusebut kantor (walau sebenarnya lebih tepat disebut tempat ngumpul), saat office hour telah berakhir, kecuali bagi mereka yang kelimpahan dosa dari perencanaan atasan tentu saja, terjadi perbincangan ringan.
“Apa kacamata yang paling mahal?” seorang temanku yang baru saja wisuda mengajukan teka-teki.
“Kacamata cinta, kacamata iman, kacamata doa”, jawabku sekenanya yang juga diakui Mbah akan kengawurannya.
“Iman itu apa, iman itu tak ada harganya”, jawab temanku
“Lalu jawabannya?” tanyaku masih penasaran……
Dan setelah ratusan tebakanku tetap salah, akhirnya dia menjawab sendiri teka-tekinya, jika ingin mengetahui jawabannya aku yakin anda tahu siapa sang sarjana muda itu.
Namun apakah benar iman memang tidak ada harganya? Juga cinta?
Pertama aku kira pendapat itu salah, ternyata ketika di pikir ulang ada benarnya juga.
Sebuah hal yang tak ternilai harganya sudah sepantasnya juga bisa disebut tak ada harganya. Sebab nilai itu tak diperjualbelikan, tak pernah terapresiasi bahkan pada mata uang yang paling kuat sekalipun.
Iman dan cinta. Dalam setiap ruang jiwa manusia ada dua hal ini, kadang kala bahkan meraja seperti seorang kapitalis rakus. Bagi mereka, sang aggressor tersebut, manusia hanya seorang inlander buduk dengan tingkat evolusi yang belum sempurna. Seringkali logika dipaksakan untuk menarik benang merah, walau hanya seutas, antara akal dengan iman atau cinta. Namun lebih sering akal hanyalah seekor kupu-kupu yang terperangkap dalam kepompongnya sendiri, gagal menampakkan keindahan dan keanggunannya. Akal hanyalah sebuah keris yang dibuat oleh empu linuwih (sakti mandraguna) namun terperangkap dalam warangkanya, warangka yang indah terukir namun tidak memiliki ketajaman. Mungkin suaranya menggema, namun begitu dalam hingga terbang pudar bersama deru angin yang lemah sekalipun.
Edward VIII (1894-1972) berkisah melalui sejarah tentang rasa cintanya kepada Wallis Simpson (meski sama2 bermarga Simpson ini tak berhubungan sama sekali dengan Homer Simpson, sayang sekali khan). Tentang perjuangannya mendapatkan cintanya. Berapakah harga yang harus dia bayar? Tak ada mata uang yang akan benar sesuai, karena dia mendapatkan cintanya setelah ia melepas tahta dan merelakan mahkota. Ia lepas kedudukannya sebagai raja Inggris, yang telah ia duduki hampir setahun. Ia lepas kedudukannya sebagai raja dari berjuta rakyat untuk menjadi raja bagi seorang wanita yang dicintainya.
Namun jaman telah berubah, sekarang pun ada orang yang menjual kehidupannya lewat E-Bay, seakan saat ini banyak komoditas yang mengarah kesebuah hal yang makin abstrak. Karena abstrak itu tak jelas, masih di awang-awang, kabur, dan itu ternyata makin menarik karena membuat orang penasaran. Kekayaan yang ada tak menjamin lagi kebahagiaan. Dan kadang semua itu justru menghimpit jiwa manusia hingga tak cukup lagi ruang buat iman dan cinta.
Dan pertanyaan terakhir tentu saja apakah masih relevan jawaban saya tentang harga iman dan cinta pada saat ini?
Dongeng yang telah usai
August 13, 2008
Hari ini dongeng-dongeng telah usai. Nawang Wulan, dengan selendang pusaka, telah kembali lagi ke kahyangan. Cinderela pun telah makan tenang bersama keluarga kerajaan dengan cawan perak, sendok garpu dari gading, dan piring porselen terbaik dari Cina. Loro Jonggrang tidak lagi meminta Bandung Bondowoso membuat 1000 candi, dia memilih untuk meminta 1000 rusunami. Dan Minke telah bertemu Annelies di Nederland, untuk memulai hidup sebagai petani bunga tulip, ditengah-tengah bumi manusia.
Ya, tadi malam, ibu menyelesaikan semua dongeng itu, hingga aku lelap tertidur. Nanti malam takkan ada lagi yang mendongeng dan didongengkan. Suara gesek daun yang tertiup angin dan binatanglah yang akan mengisi sepi malam. Aku tahu, aku akan merindukan semua dongeng-dongeng itu. Rindu akan suara ibu, yang menyusup hangat membelai jiwa, memberi rasa aman. Suara merdu ummi, serupa kidung rumekso ing wengi yang dibaca penuh dengan penghayatan, untuk anak semata wayang yang baginya belum juga dewasa.
Gerbong-gerbong cerita telah berhenti, namun tidak gerbong-gerbong cintanya. Biarpun tiap dongeng telah usai, namun kehangatan itu masih hidup, membakar gelora rindu yang lebih dalam.
Ya, nanti malam aku akan sendiri, menerawang dalam cawan misteri, untuk mereka-reka dongeng buat esok hari. Dongeng bagi generasi sesudahku.
Saqifah
August 1, 2008
Sebuah surat buat paman:
“Paduka Resi Bhisma, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?” tanya Drupadi.
Dan Resi Bhisma, yang termashyur arif dan bijaksana itu, menjawab “Aku tak tahu, anakku. Jalan darma sangat bias. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga”.
Dialog tersebut terjadi tatkala Drupadi dijadikan taruhan oleh Yudhistira, yang saat itu kemerdekaan Yudhistira sendiri telah tergadaikan pada Kurawa, sehingga dirinya diperlakukan secara tidak hormat di tengah ruang istana. Merupakan bagian dari cerita Mahabharata.
Kesimpulan mengambang yang dikatakan Bhisma tersebut terasa sesuai dengan kisah yang terjadi pada Saqifah.
Membaca Saqifah membuat seakan-akan dasar sejarah Islam yang telah diketahui secara umum bergoncang, mungkin ini mirip tatkala orang kristiani membaca buku “Da vinci Code” karya Dan Brown. Namun ada sedikit perbedaan, dan perbedaan adalah pada titik paling vital pada agama yaitu akidah. Meskipun Saqifah bisa memutarbalikkan anggapan kita akan sahabat-sahabat utama, namun akidah dari Islam sendiri tetap tak tersentuh. Dan ini berbeda tatkala pada Da Vinci Code bercerita tentang sisi kemanusiaan Yesus.
Namun, apalagi jika kita termasuk penganut Ahlus Sunah wal Jamaah, kisah ini cukup untuk membuat seorang muslim kaget. Seperti tatkala bagaimana seorang besar seperti Abu bakar, Umar, Ustman, dan sebagaimana rela memperebutkan kekuasaan hingga sedemikian caranya. Apakah itu kekuasaan? Sebuah benda abstrak yang direbut dengan kasar dan licik. Apakah mereka yang hidup pada jaman Nabi akan lebih mementingkan benda abstrak tersebut daripada mengurus jenazah Nabi?
Kita tak mengalami saat itu, kita cuma mengetahui dari buku-buku dan salah satunya buku Saqifah ini. Aku membayangkan seandainya hidup pada jaman tersebut, akankah aku memilih Ali atau Abu Bakar, aku sendiri tak akan tahu. Namun seperti kata Bhisma, bahwa orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya bisa menduga. Dan Umar, sebagai seorang negarawan yang diakui pada buku 100 tokoh dunia, mungkin juga hanya menduga, bahwa pembaiatan Abu Bakar adalah satu-satunya cara, dengan mengesampingkan tujuan pribadi Umar, untuk mempertahankan keutuhan Islam.
Bagaimanapun kesalahan dan perselisihan yang terjadi pada saat itu, kurasa tetap bukanlah pikiran bijaksana jika saat ini kita menyalahkan para sahabat. Apalagi jika membanggakan diri sendiri bahwa generasi saat ini lebih baik pada saat itu. Itulah sisi kemanusiaan, tatkala seorang manusia berjuang melawan nafsu dan pikirannya sendiri, seperti nilai yang dapat diambil dari cerita Bagavad Gita, saat Arjuna ragu untuk perang, dan Khrisna sang sais mengajaknya berdialog.
Memang sejarah mempunyai citra negatif, merupakan sebuah cerita yang berjalan timpang, yang selalu berdiri pada sisi penguasa. Saqifah adalah sejarah, yang akan sangat mungkin untuk dipluntir, dibelokkan pada jalan yang salah. Dan hanya orang-orang yang diberi petunjuk yang akan mengerti kenapa semua itu terjadi, sebuah rahasia besar yang belum tuntas terungkap. Meskipun ditakdirkan sebagai orang bijaksana, tanpa adanya petunjuk tersebut, besar kemungkinan kita juga hanya bisa menduga.
Tidak semua sejarah Islam berisi jiwa rendah hati semacam kisah Gandhi dengan ahimsa-nya, walau tokh akhirnya dia juga harus mati dengan kekerasan. Tidak semua sejarah Islam berisikan perdamaian dan ketentraman. Tidak semuanya berisikan penegakan hak asazi dan demokrasi, sebuah hal yang dipuja-puja saat ini. Tidak semuanya berisikan kepahlawanan dan jiwa besar seorang Salahudin Al Ayubi. Namun, berdasarkan pemikiranku pribadi, ada saatnya kekerasan adalah satu-satunya alat untuk mencapai kebenaran, tetapi itu haruslah pilihan terakhir. Seperti halnya alasan saat terjadinya perang Bharatayuda dalam Mahabharata.
Upaya yang terakhir bagi generasi saat ini adalah mencari suatu kertas catatan sejarah tentang saqifah walau mungkin sudah lusuh, penuh noda, serta sobek disana-sini. Kita mesti merangkainya, hingga menjadi cerita musim panas yang berakhir bahagia, tanpa menghukum yang kalah, tanpa perayaan kemenangan. Sebab pada dasarnya pada tiap perayaan kemenangan tersembunyi kesedihan dan dendam bagi yang kalah. Demi persatuan Islam, kita tiadakan perayaan dan hukuman. Dan menyimpan kertas lusuh yang terangkai tersebut dalam hati yang lapang.
-,Respati,-