Setengah perjalanan….
June 30, 2008
Perjalanan pulang ke Bali kemarin (29 Juni 200
menyisakan sebuah kisah petualangan. Dimulai dari pembelian tiket bus Malang-Denpasar 3 minggu sebelumnya (7 Juni 2008), maka yang diharapkan perjalanan balik ke Bali memberikan ketenangan, karena satu kursi telah terpesan dan tinggal menyanyikan I’m leaving on a bus sambil menyantap snack dan minum aqua yang diisi ulang.
Namun “manungso iku sadermo paraga ing drama binuka“, manusia itu cuma seorang aktor dari sebuah drama hidup. Hari minggu sore itu, jam 18:00, aku sampai di terminal, tempat kejadian perkara dalam kasus ini. Namun ternyata bus yang seharusnya saya naiki telah berangkat 10 menit yang lalu. Aku cuma bisa menggapai-gapai dalam hampa, menangis tanpa suara (halah). Untuk saat itu, pilihan pertama yang dapat dilakukan adalah mencari bus pengganti. Kenyataannya, semua bus sudah terisi penuh bahkan pada bangku tambahan yang biasanya cuma diduduki kernet atau awak bus yang lain. Meski aku menghiba, tak ada orang awak bus yang jatuh kasihan padaku… hiks…
Satu-satunya pilihan adalah bus Dahlia Indah yang akan berangkat pukul setengah sembilan malam. Bus tanpa AC (biasa disebut bus ekonomi) yang mesti muter lewat Jember untuk ke Banyuwangi. Ketika tanya berapa harga tiket untuk bus tersebut, mereka meminta Rp. 100.000,-. Sebagai perbandingan, bus yang sedianya saya naiki merupakan bus eksekutif dengan harga Rp. 110.000,-. Sayang jika uang sebesar itu untuk sekelas bus ekonomi yang mesti muter lewat Jember dulu, dengan makan malam serasa seorang tahanan, berbaris membawa piring meminta jatah nasi dan sepotong kecil ayam goreng yang gosong.
Travel. Travel merupakan pilihan logis jika anda suatu saat kehabisan bus di terminal. Jadwal keberangkatan travel sedikit lebih malam dari bus karena mesti menjemput satu2 penumpangnya dulu. Namun setelah menelpon beberapa travel agen, semua terisi penuh. Apa mau dikata, aku mesti nggelandang di terminal selama kurang lebih satu jam tanpa ada kepastian.
Karena sayang dengan duit 100.000,- buat bayar bus Dahlia, dan karena tak ada travel yang kosong. Maka diputuskan dalam rapat kabinet terbatas saat itu juga mobil yang nganter saya ke terminal untuk nganter aku sampai Bali. Dengan sedikit duit tunai, tanpa baju ganti, setelah semalaman begadang, semua kru di mobil tersebut bener2 pasrah terhadap semua yang terjadi di perjalanan. paling nggak kami bisa menyusul bus yang tiketnya telah saya beli. Ketika keputusan telah dibuat dan diinformasikan ke rumah, silih berganti orang menelpon kepada anggota rombongan kami, semua menganggap ini sebuah perjalanan nekat.
Dengan menirukan adegan di film Taxi, mobil dikebut, mengejar sebuah hal (dalam hal ini bus) yang telah berangkat 1 jam yang lalu. Tak mudah memang mengejar bus yang terkenal ngebut itu cuman dengan mobil pas-pasan. Namun keputusan telah dibuat, dan seorang laki2 mesti berjuang untuk mewujudkannya. Entah berapa puluh bus yang telah terlibas, berapa ratus kendaraan yang telah kami tinggal, bus yang dikejar blum juga tersusul. Akhirnya setelah menempuh sekitar 250-300 KM (di awal masuk kabupaten Situbondo, 2 kali jarak Malang-Surabaya), bus itu tersusul. Tapi apa mau dikata, ternyata kursi yang saya pesan telah diisi orang lain. Mereka menganggap pembayaran Rp. 100.000,- yang telah saya lakukan tak pernah terjadi, padahal uang itu dikumpulkan setelah berpuasa seminggu *_*. Apa boleh buat, dengan diiringi pandangan mata jijik awak2 bus dan penumpang yang lain, kami berlalu menyeret langkah. Semua dari kami berpikir perjalanan ini memang ditakdirkan sampai ke Bali.
Perjalanan tanpa rencana tersebut memulai babak baru, yang awalnya hanya untuk mengejar bus, kini ke Bali. Untung saja solar baru saja diisi penuh, soalnya uang tunai yang dibawa tidaklah banyak, dan ATM yang kami temui di perjalanan sudah tutup, dan jangan berharap SPBU atau warung di jalan menyediakan pembayaran melalui kartu kredit, selain itu memang saya tak punya kartu kredit. Ya, solar memang sudah penuh, namun kami belum makan sore. Akhirnya dengan duit seadanya yang tersisa, kami beli makan malam. Saat itu perjalanan kami telah sampai di daerah Besuki (10 KM dari pertemuan dengan bus yang sedianya saya tumpangi).
Ketika kami makan itulah kisah berbalik 180 derajat. Sebuah travel yang datang entah dari mana (ehm, Surabaya betulnya) menuju Denpasar dan berhenti di rumah makan tempat kami makan. Dan dari suara gaib yang terdengar (baca, tukang parkir rumah makan), mengatakan ada satu tempat kosong di travel tersebut. Tawar menawar berdarah-darah dilakukan, dan akhirnya nilai nominal yang mesti saya bayar untuk ikut travel tersebut adalah Rp. 85.000,- (bandingkan dengan Rp. 100.000,- untuk tiket bus Dahlia sebelumnya ). Saya berpindah tumpangan, dan rombongan pengantar kembali ke kampung halaman. Jam 5 pagi, team pengantar konfirmasi kedatangannya di rumah, dan saya jam 6 sampai di Ubung, yang berarti saya bisa ke kantor tepat waktu (ehm, cuman telat 20 menit seh, tapi itu karena saya pilih tidur dulu sebelum berangkat).
Moral of the story-nya, kalo kamu ga pingin ditinggal, maka jangan terlambat.
Pengeluaran untuk perjalanan malam itu lebih mahal dari seandainya saya naik pesawat, namun saya anggap itu sebagai konsekuensi dari sebuah profesionalitas… *halah
besar untuk seseorang
June 11, 2008
Sebuah percakapan antara paman dan keponakan:
Semoga aku mengerti apa yang lek Mul tulis sesuai dengan yang ingin lek Mul katakan.
Alkisah ada seorang yang berkata lantang “Bukankah kau datang untuk membunuhku, maka tembaklah aku, dan kau hanya akan membunuh seorang lelaki”
Lalu lelaki tersebut dieksekusi, dengan empat lubang peluru didadanya, dia rebah, dia mati. Lalu kedua tangannya dipotong, sebagai bukti bahwa orang itu benar orang yang mereka cari. Dan tubuh buntung tanpa tangan itu dikubur di suatu tempat yang dirahasiakan di Bolivia.
Orang itu, bagi sejarah dunia adalah orang besar. Dia Che Guevara. Tapi memang jika kita bandingkan dengan komunis sebagai paham yang di anut, kurasa tak terlalu bijak untuk membicarakan kebesaranya berdasar agama disini.
Untuk agama, kita bisa bicara tentang Gandhi, Mahatma Gandhi (dengan kita tak melupakan nabi Muhammad tentu saja). Kata ahimsa menjadi kata yang umum sekarang karena dia, Dalai Lama ke 14 pun mengakui terilhami oleh Gandhi meski dia beragama Budha. Namun selalu ada sisi lain yang mungkin jarang terungkap tentang Gandhi, dia bukanlah sebuah ayah yang “besar” bagi anak-anaknya. Istrinya sendiri mengatakan bahwa Gandhi ingin anaknya menjadi seperti dirinya bahkan saat mereka masih kanak-kanak. Gandhi yang berkata “Aku selalu kembali ke Bagavad Gita jika keraguan menyelimutiku” akhirnya mati karena ditembak oleh ekstremis hindu, kaumnya sendiri. Besar bagi seseorang tak selamanya besar bagi orang lain.
Untuk kita, orang jawa, orang besar selalu dilingkupi dengan ke-gaib-an. Wali songo dengan berbagai karomahnya, berbagai raja jawa dengan berbagai ritual gaib-nya. Seakan-akan hanyalah mereka yang ber-darah biru lah yang berhak atas “besar”. Gelar2 dibuat untuk menambah keyakinan orang. Raden Ajeng, Gusti Ayu, Pangeran. Dan mereka yang bernama Lasiran, Paijem, Ngadiono, Poniyem, tak berhak atas takhta, atas “besar”. Mereka bukan keturunan Ki Ageng Pemanahan yang telah minum air kelapa muda sekali teguk.
Seucap syukur, dan setingkat menjadi lebih besar.
Salam,
—–Original Message—–
From: Mulyono
Sent: Wednesday, June 11, 2008 11:59 AM
To: Cahyo Respito
Subject: Re: konfirmasi email
Nah itu dia. Seorang bekas jenderal, posisi sebagai menteri, letaknya di pusat pemerintahan secara kasat mata ia orang ‘besar’. Dia bisa saja ‘kecil’ bila perbuatannya dinilai dengan ukuran yang ditentukan Allah kan ?
Orang orang pada ke pantai Kuta. Mungkin ingin melihat keindahan ciptaanNya yang lain meski dalam dirinya, dalam rumahnya, dalam pekarangannya juga ada tak terhitung keindahan ciptaanNya.
Kepada mereka Allah memberi setitik ‘kesadaran’ di otaknya sehingga mengatakan wah ini baik atau itu indah. Sekali ‘kesadaran’ itu di cabut seseorang sudah tidak tahu apa apa lagi bahkan siapa dirinya.
Kuta akan tetap indah meskipun orang yang sedang sakit gigi mengatakan lain. Jadi apakah indah itu bagi manusia ada kalau yang melihatnya sehat? Juga sebaliknya, aku pernah melihat seorang cewek yang huayu, pipinya merah merona, lentik bulu matanya berkedip dibarengi senyum menambah manisnya. Besoknya ia kutemui di ruang mayat rumah sakit Dr.
Subandi, pipinya jadi ungu entah kebentur apa, matanya tidak berkedip lagi bibirnya bungkam rapat menyembunyikan semuanya.
Mengerikan! ‘Kesadaran’ itu masih ada tetapi bicara lain.
Pito ngerti maksud saya? asal tahu saja aku sendiri tidak tahu ke arah mana aku bicara.
Jalani hari ini dengan rasa syukur. Salam
Cahyo Respito wrote:
> Pingin ngumpulin email semua keluarga, terus nanti dikirim sama2. biar
> kalo ada info apa2 yang menarik bisa semua dapat.
>
> Aku lagi di Jl. Kediri, di depan computer di kantor. Sedangkan 1
> kilometer dari tempatku, orang dari seluruh dunia datang untuk melihat
> pantai Kuta.
>
> Tapi kita semua percaya bukanlah posisi dan letak seseorang yang
> membuat seseorang menjadi besar atau kecil, tapi perbuatanya.
>
> Salam,
>
> —–Original Message—–
> From: Mulyono
> Sent: Wednesday, June 11, 2008 11:01 AM
> To: Cahyo Respito
> Subject: Re: konfirmasi email
>
>
> Benar, Pito dimana ? kok konfirmasi dulu emang mau kirim berita bagus
> atau apa kek yang bagus2 ?
>
> Salam
>
>
> Cahyo Respito wrote:
>
>> Lek moel,
>>
>>
>>
>> Apa ini benar emaile lek Mul? Karena ga ada nama di tiap account
>> email
>>
>
>
>> Nippon , maka perlu di konfirmasi dulu.
>>
>>
>>
>> Regards,
>>
>> *Cahyo Respito(Cahyo)*
Senyum yang tak lagi terlihat
June 11, 2008
Ada rindu pada dia yang telah pergi, kehilangan ini terjadi justru disaat harapan akan kebahagiaan dan pertemuan yang lebih panjang membumbung. Ini terjadi saat seorang anak merasa menjadi dirinya, bisa makan dari tangan sendiri, bisa berjalan dengan kaki sendiri, dan mulai mengerti bagaimana membalas semua jasa.
Tapi semua mesti tetap berjalan, dan kelahiran resah berawal dari kurangnya ikhlas. Ketika semua cabang dari harap, seakan lenyap bersama kepergiaanya. Kebangkitan dari keterpurukan, cahaya dari bulan di malam yang berawan. Samar berjalan, mengenggam lilin dengan sinar yang menari liar. Namun dia masih terbayang, sedang duduk dipinggir danau tenang diantara kupu dan kembang.
Ada jutaan bunga mekar, ada jutaan kupu mengepak, bersamaan dengan senyumnya. Mata air yang membasuh rindu, tenang dan bening meresap pada ari yang mengering.
Kini senyum itu tak lagi terlihat, tapi hidup dalam keabadian yang lain, dari semangat yang tak pernah mati. Akan tetap berjuang, bagi dia, bagi dia yang mempunyai senyum yang abadi…..
Apa yang bisa diceritakan dari duka?
Tak ada suara, tak ada kata
Seperti sebuah percakapan abadi…
Sunyi…………..Siapakah yg paling berhak atas duka?
Yang mendera, menikam
Menjeram pada senjakala yang muram…
Kelam…..Seberapa jauhkah masa lalu?
Ketika seberapa dekat tawa, yang terbayang dan menghilang
Wajah itu, senyum itu. Muara dari kasih sayang paling nyata yang kurasakan.
Dan, aku tak ingin bilang. Rasa sakit ini yang begitu sesak.
The eloquency of silence
May 16, 2008
Kata itu ditulis Ivan Illich dalam buku Celebration of Awareness (bercerita tentang kekuatan diam sebagai sebuah bahasa yang lebih bermakna). Siapa yang peduli pada diam? mereka yang bisa merasakan kekuatan dari sanjak, akan mengerti tentang ini. Diam adalah pengisi ruang utama dari sebuah bahasa, seperti ruang hampa yang mengisi atom, seperti sebuah tali yang menghubungkan simpul-simpul kata. Dengan kata lain, kata tak akan bermakna tanpa kebisuan.
Tapi siapa yang peduli? saat sebuah sejarah diperingati, saat suatu masa berlalu berganti yang baru, manusia cenderung membuat gaduh. Petasan disulut, gendang ditabuh, terompet ditiup, sound system dinyalakan. Seakan suara itu - yang berlangsung sesaat dan segera hilang - adalah sebuah pengakuan, sebuah pesan tanpa kata yang mungkin dengan kasar bisa diterjemahkan “Jaman berubah, sejarah telah berlalu, mari kita rayakan, toh masa depan penuh dengan harapan”. Tetapi itu semua akan berarti bila seorang manusia bersama-sama dengan manusia lain, bila manusia merasa sebagai seorang makhluk sosial.
Dalam sebuah massa, sifat individu akan luntur. Suara tetabuhan dan petasan, adalah suara bersama. Seakan-akan massa itu menjadi “kita”, dan mereka yang bukan kita adalah “mereka”. Dan untuk sesaat, diam tak lebih punya arti daripada lemah, tanpa semangat, tak punya masa depan.
Hari berganti, pesta pun usai. Sampah menumpuk ditempat bekas pesta. Orang-orang (massa kemarin) menjadi seorang individu kembali, seorang sopir, karyawan, ibu rumah tangga. Suara yang keluar pun tidak lagi garang, penuh gelora. Suara yang keluar adalah bahasa individu, intonasi dijaga, jeda tiap kata diperhatikan, dan diam mendapatkan kembali kekuatan.
Hentikanlah seluruh pembicaraan, agar mendapatkan percakapan abadi
Jalaludin Rumi
First post….
May 16, 2008
This is my first post….
Kemaren aku ngasih status YM dengan satu penggal puisi milik Soe Hok Gie,
…..
Kita berbeda dalam semua,
kecuali dalam cinta
…..
Ada temanku, sebut saja namanya bunga (bukan nama sebenarnya :p) yang bertipe sok tahu bin ngeyel, yang tiba-tiba kasih komentar, dia kasih message
Bunga : “Gie itu dulu kuliah di Elektro, kakak angkatanku”
Aku yang ga ngeh jadi bingung juga, soale dia itu khan kuliah di Elektro ITS - Surabaya. Namun yah mungkin aja khan waktu itu si Gie ga sampe lulus kul Elektro ITS trus pindah ke Ekonomi UI (ga kebalek neh :D). Aku jawab asal aja
Gue: “Masak seh, angkatan berapa?”
Ga berapa lama dia kasih jawaban, lebih panjang dari yang diharapin.
bunga : “Angkatan ‘70″
bunga : “dia dulu yang babat alas buat pendakian ke semeru”
bunga : “kalo kamu ga percaya liat aja di silabus elektro”
bunga : “namanya Tan Kwe Gie”
Lama ga dijawab, akhirnya dia nge BUZZ. Ketika dia nge BUZZ yang ke sepuluh kalinya baru aku liat lagi, n dah jelas dari namanya dah salah, tapi aku coba konfirmasi ulang, barangkali memang dia pernah ganti nama, biar buang sial (mungkin aja khan).
Gue : “Lho bukane namane seharusnya Kwik Kian Gie?”
Dia balik jawab:
Bunga : “Itu khan perdana menteri Singapura”
tak berapa lama dia mungkin ragu dengan jawaban barusan - atau kalo ga gitu ya barusan cari di google n cuma nemuin nama Lee Kwan Yu/Goh Chok Tong, trus nambahi lagi
Bunga : “Eh, bukan seh, tapi emang ga gitu kok namanya”
Bunga : “yang nama itu aku dah pernah denger, n asale bukan dari Indonesia”
Akhirnya percakapan itu berlanjut dengan tanpa hasil - dan juga akan menghabiskan bandwith jika dibahas semua disini.
Namun ngomong-ngomong memang banyak dari kita yang ga tau siapa tuh Gie, beruntung aja sempat dibuat filmnya beberapa tahun yang lalu, kalo ga pasti lebih banyak yang ga tau, termasuk gue. Kita bisa berkata bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, namun kita pasti ragu jika berkata bangsa Indonesia adalah bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya.
Setiap bulan agustus, menjelang peringatan kemerdekaan, dan hari besar nasional lainnya, kita mendengar lagi dongeng-dongeng itu. Bung Tomo yang mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo di hari pahlawan - yg sampe kini ga diakui sebagai pahlawan nasional, Pak Dirman yang dengan separoh paru-paru memimpin perang gerilya, juga mendekati 21april, saat para ibu-ibu pada pake kebaya, menyasak rambut, saat itulah aura Ibu “kita” Kartini kembali ditebar. Kata ibu disini adalah penghormatan, mengingat beliau wafat pada umur 25, namun hal ini tetap harus dijelaskan mengingat hal seperti ini pasti jadi permasalahan bagi orang seperti teman saya tadi - si Bunga.