Kata itu ditulis Ivan Illich dalam buku Celebration of Awareness (bercerita tentang kekuatan diam sebagai sebuah bahasa yang lebih bermakna). Siapa yang peduli pada diam? mereka yang bisa merasakan kekuatan dari sanjak, akan mengerti tentang ini. Diam adalah pengisi ruang utama dari sebuah bahasa, seperti ruang hampa yang mengisi atom, seperti sebuah tali yang menghubungkan simpul-simpul kata. Dengan kata lain, kata tak akan bermakna tanpa kebisuan.

Tapi siapa yang peduli? saat sebuah sejarah diperingati, saat suatu masa berlalu berganti yang baru, manusia cenderung membuat gaduh. Petasan disulut, gendang ditabuh, terompet ditiup, sound system dinyalakan. Seakan suara itu – yang berlangsung sesaat dan segera hilang – adalah sebuah pengakuan, sebuah pesan tanpa kata yang mungkin dengan kasar bisa diterjemahkan “Jaman berubah, sejarah telah berlalu, mari kita rayakan, toh masa depan penuh dengan harapan”. Tetapi itu semua akan berarti bila seorang manusia bersama-sama dengan manusia lain, bila manusia merasa sebagai seorang makhluk sosial.

Dalam sebuah massa, sifat individu akan luntur. Suara tetabuhan dan petasan, adalah suara bersama. Seakan-akan massa itu menjadi “kita”, dan mereka yang bukan kita adalah “mereka”. Dan untuk sesaat, diam tak lebih punya arti daripada lemah, tanpa semangat, tak punya masa depan.

Hari berganti, pesta pun usai. Sampah menumpuk ditempat bekas pesta. Orang-orang (massa kemarin) menjadi seorang individu kembali, seorang sopir, karyawan, ibu rumah tangga. Suara yang keluar pun tidak lagi garang, penuh gelora. Suara yang keluar adalah bahasa individu, intonasi dijaga, jeda tiap kata diperhatikan, dan diam mendapatkan kembali kekuatan.

Hentikanlah seluruh pembicaraan, agar mendapatkan percakapan abadi
Jalaludin Rumi

First post….

May 16, 2008

This is my first post….
Kemaren aku ngasih status YM dengan satu penggal puisi milik Soe Hok Gie,

…..
Kita berbeda dalam semua,
kecuali dalam cinta
…..

Ada temanku, sebut saja namanya bunga (bukan nama sebenarnya :p) yang bertipe sok tahu bin ngeyel, yang tiba-tiba kasih komentar, dia kasih message

Bunga : “Gie itu dulu kuliah di Elektro, kakak angkatanku”

Aku yang ga ngeh jadi bingung juga, soale dia itu khan kuliah di Elektro ITS – Surabaya. Namun yah mungkin aja khan waktu itu si Gie ga sampe lulus kul Elektro ITS trus pindah ke Ekonomi UI (ga kebalek neh :D ). Aku jawab asal aja

Gue: “Masak seh, angkatan berapa?”

Ga berapa lama dia kasih jawaban, lebih panjang dari yang diharapin.

bunga : “Angkatan ‘70″
bunga : “dia dulu yang babat alas buat pendakian ke semeru”
bunga : “kalo kamu ga percaya liat aja di silabus elektro”
bunga : “namanya Tan Kwe Gie”

Lama ga dijawab, akhirnya dia nge BUZZ. Ketika dia nge BUZZ yang ke sepuluh kalinya baru aku liat lagi, n dah jelas dari namanya dah salah, tapi aku coba konfirmasi ulang, barangkali memang dia pernah ganti nama, biar buang sial (mungkin aja khan).

Gue : “Lho bukane namane seharusnya Kwik Kian Gie?”

Dia balik jawab:

Bunga : “Itu khan perdana menteri Singapura”

tak berapa lama dia mungkin ragu dengan jawaban barusan – atau kalo ga gitu ya barusan cari di google n cuma nemuin nama Lee Kwan Yu/Goh Chok Tong, trus nambahi lagi

Bunga : “Eh, bukan seh, tapi emang ga gitu kok namanya”
Bunga : “yang nama itu aku dah pernah denger, n asale bukan dari Indonesia”

Akhirnya percakapan itu berlanjut dengan tanpa hasil – dan juga akan menghabiskan bandwith jika dibahas semua disini.

Namun ngomong-ngomong memang banyak dari kita yang ga tau siapa tuh Gie, beruntung aja sempat dibuat filmnya beberapa tahun yang lalu, kalo ga pasti lebih banyak yang ga tau, termasuk gue. Kita bisa berkata bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, namun kita pasti ragu jika berkata bangsa Indonesia adalah bangsa yang menghargai pahlawan-pahlawannya.

Setiap bulan agustus, menjelang peringatan kemerdekaan, dan hari besar nasional lainnya, kita mendengar lagi dongeng-dongeng itu. Bung Tomo yang mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo di hari pahlawan – yg sampe kini ga diakui sebagai pahlawan nasional, Pak Dirman yang dengan separoh paru-paru memimpin perang gerilya, juga mendekati 21april, saat para ibu-ibu pada pake kebaya, menyasak rambut, saat itulah aura Ibu “kita” Kartini kembali ditebar. Kata ibu disini adalah penghormatan, mengingat beliau wafat pada umur 25, namun hal ini tetap harus dijelaskan mengingat hal seperti ini pasti jadi permasalahan bagi orang seperti teman saya tadi – si Bunga.