besar untuk seseorang

June 11, 2008

Sebuah percakapan antara paman dan keponakan:

Semoga aku mengerti apa yang lek Mul tulis sesuai dengan yang ingin lek Mul katakan.

Alkisah ada seorang yang berkata lantang “Bukankah kau datang untuk membunuhku, maka tembaklah aku, dan kau hanya akan membunuh seorang lelaki”
Lalu lelaki tersebut dieksekusi, dengan empat lubang peluru didadanya, dia rebah, dia mati. Lalu kedua tangannya dipotong, sebagai bukti bahwa orang itu benar orang yang mereka cari. Dan tubuh buntung tanpa tangan itu dikubur di suatu tempat yang dirahasiakan di Bolivia.

Orang itu, bagi sejarah dunia adalah orang besar. Dia Che Guevara. Tapi memang jika kita bandingkan dengan komunis sebagai paham yang di anut, kurasa tak terlalu bijak untuk membicarakan kebesaranya berdasar agama disini.

Untuk agama, kita bisa bicara tentang Gandhi, Mahatma Gandhi (dengan kita tak melupakan nabi Muhammad tentu saja). Kata ahimsa menjadi kata yang umum sekarang karena dia, Dalai Lama ke 14 pun mengakui terilhami oleh Gandhi meski dia beragama Budha. Namun selalu ada sisi lain yang mungkin jarang terungkap tentang Gandhi, dia bukanlah sebuah ayah yang “besar” bagi anak-anaknya. Istrinya sendiri mengatakan bahwa Gandhi ingin anaknya menjadi seperti dirinya bahkan saat mereka masih kanak-kanak. Gandhi yang berkata “Aku selalu kembali ke Bagavad Gita jika keraguan menyelimutiku” akhirnya mati karena ditembak oleh ekstremis hindu, kaumnya sendiri. Besar bagi seseorang tak selamanya besar bagi orang lain.

Untuk kita, orang jawa, orang besar selalu dilingkupi dengan ke-gaib-an. Wali songo dengan berbagai karomahnya, berbagai raja jawa dengan berbagai ritual gaib-nya. Seakan-akan hanyalah mereka yang ber-darah biru lah yang berhak atas “besar”. Gelar2 dibuat untuk menambah keyakinan orang. Raden Ajeng, Gusti Ayu, Pangeran. Dan mereka yang bernama Lasiran, Paijem, Ngadiono, Poniyem, tak berhak atas takhta, atas “besar”. Mereka bukan keturunan Ki Ageng Pemanahan yang telah minum air kelapa muda sekali teguk.

Seucap syukur, dan setingkat menjadi lebih besar.

Salam,

—–Original Message—–
From: Mulyono
Sent: Wednesday, June 11, 2008 11:59 AM
To: Cahyo Respito
Subject: Re: konfirmasi email

Nah itu dia. Seorang bekas jenderal, posisi sebagai menteri, letaknya di pusat pemerintahan secara kasat mata ia orang ‘besar’. Dia bisa saja ‘kecil’ bila perbuatannya dinilai dengan ukuran yang ditentukan Allah kan ?

Orang orang pada ke pantai Kuta. Mungkin ingin melihat keindahan ciptaanNya yang lain meski dalam dirinya, dalam rumahnya, dalam pekarangannya juga ada tak terhitung keindahan ciptaanNya.

Kepada mereka Allah memberi setitik ‘kesadaran’ di otaknya sehingga mengatakan wah ini baik atau itu indah. Sekali ‘kesadaran’ itu di cabut seseorang sudah tidak tahu apa apa lagi bahkan siapa dirinya.

Kuta akan tetap indah meskipun orang yang sedang sakit gigi mengatakan lain. Jadi apakah indah itu bagi manusia ada kalau yang melihatnya sehat? Juga sebaliknya, aku pernah melihat seorang cewek yang huayu, pipinya merah merona, lentik bulu matanya berkedip dibarengi senyum menambah manisnya. Besoknya ia kutemui di ruang mayat rumah sakit Dr.
Subandi, pipinya jadi ungu  entah  kebentur apa, matanya  tidak berkedip lagi  bibirnya  bungkam rapat  menyembunyikan  semuanya.
Mengerikan!  ‘Kesadaran’ itu masih ada tetapi bicara  lain.

Pito ngerti maksud saya? asal tahu saja aku sendiri tidak tahu ke arah mana aku bicara.

Jalani hari ini dengan rasa syukur. Salam

Cahyo Respito wrote:
> Pingin ngumpulin email semua keluarga, terus nanti dikirim sama2. biar
> kalo ada info apa2 yang menarik bisa semua dapat.
>
> Aku lagi di Jl. Kediri, di depan computer di kantor. Sedangkan 1
> kilometer dari tempatku, orang dari seluruh dunia datang untuk melihat
> pantai Kuta.
>
> Tapi kita semua percaya bukanlah posisi dan letak seseorang yang
> membuat seseorang menjadi besar atau kecil, tapi perbuatanya.
>
> Salam,
>
> —–Original Message—–
> From: Mulyono
> Sent: Wednesday, June 11, 2008 11:01 AM
> To: Cahyo Respito
> Subject: Re: konfirmasi email
>
>
> Benar, Pito dimana ? kok konfirmasi dulu emang mau kirim berita bagus
> atau apa kek yang bagus2 ?
>
> Salam
>
>
> Cahyo Respito wrote:
>
>> Lek moel,
>>
>>
>>
>> Apa ini benar emaile lek Mul? Karena ga ada nama di tiap account
>> email
>>
>
>
>> Nippon , maka perlu di konfirmasi dulu.
>>
>>
>>
>> Regards,
>>
>> *Cahyo Respito(Cahyo)*

4 Responses to “besar untuk seseorang”

  1. Eru said

    Keren ungkapannya… bole di curi ya?

    Saya susa2 diet buat ga jadi “besar” yo? :D

  2. respito said

    ambil aja lah, emang ada copyrightnya? ada yang bilang pujangga kecil meminjam, penyair besar merampok….
    dan kita sama tahu, ich kein literat…

  3. cute_brat said

    Hehehe..gw ga ngebayangin yo gmn kalo keluarga mu ketemuan pas lebaran…Saling maaf2an tapi pake puisi…
    Wakakakaa

  4. sukun said

    benar2 indah, dibagi dong ilmunya cah ^^

Leave a Reply