Ada rindu pada dia yang telah pergi, kehilangan ini terjadi justru disaat harapan akan kebahagiaan dan pertemuan yang lebih panjang membumbung. Ini terjadi saat seorang anak merasa menjadi dirinya, bisa makan dari tangan sendiri, bisa berjalan dengan kaki sendiri, dan mulai mengerti bagaimana membalas semua jasa.

Tapi semua mesti tetap berjalan, dan kelahiran resah berawal dari kurangnya ikhlas. Ketika semua cabang dari harap, seakan lenyap bersama kepergiaanya. Kebangkitan dari keterpurukan, cahaya dari bulan di malam yang berawan. Samar berjalan, mengenggam lilin dengan sinar yang menari liar. Namun dia masih terbayang, sedang duduk dipinggir danau tenang diantara kupu dan kembang.

Ada jutaan bunga mekar, ada jutaan kupu mengepak, bersamaan dengan senyumnya. Mata air yang membasuh rindu, tenang dan bening meresap pada ari yang mengering.

Kini senyum itu tak lagi terlihat, tapi hidup dalam keabadian yang lain, dari semangat yang tak pernah mati. Akan tetap berjuang, bagi dia, bagi dia yang mempunyai senyum yang abadi…..

Apa yang bisa diceritakan dari duka?
Tak ada suara, tak ada kata
Seperti sebuah percakapan abadi…
Sunyi…………..

Siapakah yg paling berhak atas duka?
Yang mendera, menikam
Menjeram pada senjakala yang muram…
Kelam…..

Seberapa jauhkah masa lalu?
Ketika seberapa dekat tawa, yang terbayang dan menghilang
Wajah itu, senyum itu. Muara dari kasih sayang paling nyata yang kurasakan.
Dan, aku tak ingin bilang. Rasa sakit ini yang begitu sesak.

Leave a Reply