harga iman dan cinta, adakah?
August 13, 2008
Di sebuah tempat yang biasa kusebut kantor (walau sebenarnya lebih tepat disebut tempat ngumpul), saat office hour telah berakhir, kecuali bagi mereka yang kelimpahan dosa dari perencanaan atasan tentu saja, terjadi perbincangan ringan.
“Apa kacamata yang paling mahal?” seorang temanku yang baru saja wisuda mengajukan teka-teki.
“Kacamata cinta, kacamata iman, kacamata doa”, jawabku sekenanya yang juga diakui Mbah akan kengawurannya.
“Iman itu apa, iman itu tak ada harganya”, jawab temanku
“Lalu jawabannya?” tanyaku masih penasaran……
Dan setelah ratusan tebakanku tetap salah, akhirnya dia menjawab sendiri teka-tekinya, jika ingin mengetahui jawabannya aku yakin anda tahu siapa sang sarjana muda itu.
Namun apakah benar iman memang tidak ada harganya? Juga cinta?
Pertama aku kira pendapat itu salah, ternyata ketika di pikir ulang ada benarnya juga.
Sebuah hal yang tak ternilai harganya sudah sepantasnya juga bisa disebut tak ada harganya. Sebab nilai itu tak diperjualbelikan, tak pernah terapresiasi bahkan pada mata uang yang paling kuat sekalipun.
Iman dan cinta. Dalam setiap ruang jiwa manusia ada dua hal ini, kadang kala bahkan meraja seperti seorang kapitalis rakus. Bagi mereka, sang aggressor tersebut, manusia hanya seorang inlander buduk dengan tingkat evolusi yang belum sempurna. Seringkali logika dipaksakan untuk menarik benang merah, walau hanya seutas, antara akal dengan iman atau cinta. Namun lebih sering akal hanyalah seekor kupu-kupu yang terperangkap dalam kepompongnya sendiri, gagal menampakkan keindahan dan keanggunannya. Akal hanyalah sebuah keris yang dibuat oleh empu linuwih (sakti mandraguna) namun terperangkap dalam warangkanya, warangka yang indah terukir namun tidak memiliki ketajaman. Mungkin suaranya menggema, namun begitu dalam hingga terbang pudar bersama deru angin yang lemah sekalipun.
Edward VIII (1894-1972) berkisah melalui sejarah tentang rasa cintanya kepada Wallis Simpson (meski sama2 bermarga Simpson ini tak berhubungan sama sekali dengan Homer Simpson, sayang sekali khan). Tentang perjuangannya mendapatkan cintanya. Berapakah harga yang harus dia bayar? Tak ada mata uang yang akan benar sesuai, karena dia mendapatkan cintanya setelah ia melepas tahta dan merelakan mahkota. Ia lepas kedudukannya sebagai raja Inggris, yang telah ia duduki hampir setahun. Ia lepas kedudukannya sebagai raja dari berjuta rakyat untuk menjadi raja bagi seorang wanita yang dicintainya.
Namun jaman telah berubah, sekarang pun ada orang yang menjual kehidupannya lewat E-Bay, seakan saat ini banyak komoditas yang mengarah kesebuah hal yang makin abstrak. Karena abstrak itu tak jelas, masih di awang-awang, kabur, dan itu ternyata makin menarik karena membuat orang penasaran. Kekayaan yang ada tak menjamin lagi kebahagiaan. Dan kadang semua itu justru menghimpit jiwa manusia hingga tak cukup lagi ruang buat iman dan cinta.
Dan pertanyaan terakhir tentu saja apakah masih relevan jawaban saya tentang harga iman dan cinta pada saat ini?
Hmm hmm… respito ne emang suka ada
insight yang aneh-aneh
wk wk saya kenal sarjana muda itu
Anyway..
yaa kurasa begitu, cinta dan iman adalah sesuatu yang saking berharganya kadang dinilai ga berharga.. kurasa karena mereka ga bisa dipegang dan abstrak itulah yang bikin orang2 lupa..
susahnya mencinta.. susahnya dicinta…
susahnya beriman..
(yang true)
kemudian jadi pertanyaan How true? hehehehe
** menghilang bersama cinta dan iman **
Cinta bila dipikir melalui jalan pikir kita sendiri bisa bercampur aduk hingga kita tahu cinta itu sendirilah yang akan menjelaskan, apa itu cinta.
Sejak iman dan cinta adalah sama-sama tentang kepercayaan, ada kemiripan. Namun ketika dibicarakan dengan keabadian, barulah timbul perbedaan.
Faith and Love do not have a price…
They’re priceless.*period*
Numpang lewat mbah cahyo….
hm,..
kalo dijawab nanti malah bertentangan dengan pemahaman/pikiran selama inie,..