desk tag
January 16, 2009
Dapat Pe Er dari Sasha, buat menceritakan gimana keadaan meja kerjaku. Sepertinya saya tak bisa bercerita banyak tentang apa yang ada di meja kerjaku, dan taburan harapan apa yang ada disitu.
Seperti yang banyak diketahui, kantorku berada di daerah Pantai Kuta, dimana gejolak kehidupan menderu bersama ombak, tempat dengan pasir putih lembut yang membelai kaki setiap orang dari seluruh dunia, menyesakkan mimpi dan kenangan bagi berjuta orang. Namun, satu kilometer dari situ, di meja kerjaku, di cubicle ku, tak ada kehidupan. Dengan semua bukti itu bukankah saya bisa memaklumatkan bahwa dunia ini penuh ketimpangan?
Meja kerjaku terdiri dari dua sisi, bisa dibilang depan dan dan samping. Komputer kadang ada di meja depan, kadang di meja samping, tapi yang pasti kedua meja tersebut adalah juga sekaligus meja makan, ketika diatas meja salah satunya terdapat piring dan nasi bungkusan yang sudah mulai dingin, di meja yang lain gelas minum dan buah tersaji, suatu pesta kecil naïf yang dipaksakan. Eh, ada juga tumpukan kertas bekas dari hasil print atau photokopi yang gagal, yang tiap hari kerja selalu tak berantakin, dan membuat risih OB yang mesti kembali ngerapiin.
Hiasan? Tidak ada hiasan sama sekali, yang juga ada cuman print-print an task yang kadaluarsa di dinding cubicle belum dicabut. Bukankah sebelumnya sudah saya katakan ga ada kehidupan di meja itu, lalu kenapa mesti ada hiasan?
OK, sekarang berganti topik soal komputer kerjaku, komputer itu terdiri dari tabung kaca cembung dengan teknologi jaman penjajahan. Jikalau sedang menampilkan gambar sebuah bola bumi, akan terasa nyata bulatnya. CPU nya sendiri punya kecepatan setara seorang prajurit yang merayap diantara hujan mortir dan desing peluru.
Tetapi itu semua tak berarti tak ada positifnya, karena dari meja itu, dari gaji yang kuperoleh tiap bulannya, aku bisa membiayai ruangan mimpi yang lain, yang terbentang lebih luas dari sebuah cubicle hampa.
Note: Sorry ga ada kamera, so ga ada photonya
Yang pada pingin di tag, silahkan bikin resolusi sendiri di komentar ^_^
Arti sebuah kemenangan
January 11, 2009
Bagi yang sedang berjuang…
Disuatu jaman yang jauh, disuatu tempat yang juga jauh, di dataran Cina, ketika negara itu masih berbentuk sebuah monarki. Sebuah kelompok bersenjata yang dipimpin oleh seorang yang bijaksana, mengembara keliling Cina untuk menciptakan perdamaian. Pimpinan tersebut selalu menjadi seorang penengah pada semua pihak yang bertikai, menjadi seorang negoisator, mencoba menjadi kelambu diantara dua nyala mata yang saling mengancam.
Sebilah baja bisa ditempa untuk menjadi sebilah keris, namun kadang hati seseorang bisa lebih keras dan kaku, dan tak ada empu yang sanggup melunakkannya. Pada saat perang adalah satu-satunya pilihan dari dua kelompok yang sedang bertikai tersebut, maka sang pemimpin kelompok bersenjata tadi akan datang pada kelompok yang lebih lemah, membantu melawan kelompok yang lebih kuat, sehingga sedapat mungkin diantara dua kelompok bertikai tersebut tercapai keseimbangan kekuatan. Pemimpin tersebut percaya, semakin berat sebuah kemenangan diraih akan menjadikan hati seseorang menjadi lebih bisa menghargai yang lain.
Menang tanpa ngasorake, itulah pepatah jawa yang telah terdengar dari masa yang juga telah jauh. Menggema sedemikian hingga saat ini. Menang tanpa menghinakan yang kalah, bukanlah berarti suatu bukti kelemahan, justru sebuah bukti kebesaran jiwa. Memang hal seperti itu langka saat ini, namun bukankah umumnya yang langka itu mahal dan bernilai? Sejarah yang berkesan yang kukenal sebagai perwujudan pepatah ini adalah saat pidato Douglas MacArthur di atas USS Missouri. Dengan tanpa tanda pangkat dan bintang di pakaiannya, dia berkata:
“…But rather it is for us, both victors and vanquished, to rise to that higher dignity which alone befits the sacred purposes we are about to serve…”
Kita ada di bumi yang sama, saat senjata-senjata menjadi bisu, dan perdamaian tercipta, itulah kemenangan kedua belah pihak, kemenangan seluruh umat manusia.
Menjadi seorang pemenang, dan tetap menjaga kepribadian dititik paling suci adalah lebih berat daripada mencapai kemenangan itu sendiri. Kemenangan bukanlah perubahan yang kita maksud, namun adalah kesempatan untuk melakukan perubahan yang telah kita idamkan, dan kata-kata ini begitu menggema belakangan ini, kita tahu mengapa. Kemenangan sendiri bukan sebuah hasil, itu sebuah proses dengan derap langkah yang terus menggema menuju keadaan yang lebih baik. Kemenangan adalah sebuah sayap yang terus mengepak, kemenangan adalah sebuah mesin yang terus menderu. Kemenangan bukanlah saat bendera telah ditancapkan di Iwo Jima, atau ketika proklamasi dibacakan, kemenangan adalah ketika kita berhasil menjaga tindakan kita sesuai dengan harapan dan cita-cita yang telah ditetapkan. Kita bisa bercermin apa yang dikatakan seorang Aristotle pada Iskandar Zulkarnanen, “Bukanlah sepotong hari cerah dan seekor burung layang-layang yang menjadikan sebuah musim dingin menjadi musim semi”
Namun pada akhirnya kita masih bertanya, Shinta yang berhasil direbut Rama sebagai lambang kemenangan kebenaran melawan keangkaramurkaan, kenapa mesti dibakar dan dibuang? Akankah itu berarti pertanyaan akan terus ada, seiring dengan kemenangan itu sendiri?