Berbagi

March 24, 2009

Posting dari draft yg udah lumayan lama. rada ngawur seh, nyoba2 aja

===================

Pantai Kuta – Lombok

Sejarah berawal dari sini, dari sebuah bukit di pantai Kuta, putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut. Dia berikrar, bahwa dirinya akan dimiliki oleh semua masyarakat Lombok. Dan dari situlah legenda menyebar.

Aku berdiri di puncak bukit itu, sendiri. Debur ombak di bawah sana, memecah sunyi. Angin begitu kuat, hingga aku berpikir tubuhku yang kurus ini bisa diterbangkan angin. Dalam kesendirian itulah, diatas puncak tersebut, tempat yang tepat untuk bersetubuh dengan nasib. Nasib dan diriku menjadi sedemikian intim, manunggal nyawiji, dan itu justru terjadi di tempat yang begitu sepi dan jauh dari suatu tempat yang kusebut rumah. Saat aku merasa sendiri, saat itulah nasib berbisik diantara bunyi ombak dan deru angin, “Aku ada disini, bersamamu, disampingmu, dan akan selalu begitu”.

Engkau nasib, kepada siapa kamu berpihak, tanyaku.

“Aku tidak dimiliki siapapun, namun aku memiliki siapapun. Aku tak berpihak pada apapun, kecuali pada diriku sendiri”, nasib bicara seperti sebuah angin yang melintas, namun begitu jelas terdengar.

Aku yang masih terengah ketika mendaki bukit, mendapati tanyaku diantara sengal. Dapatkah kau cerita padaku tentang dirimu berhubungan dengan aku?

“Diriku adalah bayangan yang berwujud, mengikutimu dari tempat yang paling terang, hingga pada kegelapan total. Aku tahu ceritamu dari sebelum apa yang kau sebut awal dan lebih daripada yang kau sebut dengan akhir. Namun aku takkan bicara padamu tentang dirimu, karena aku juga sebuah wujud dalam bayangan, aku adalah kegelapan hijab halimun yang akan segera hilang jika sinar pencerahan telah menyebar. Dan rahasia pada diriku tentang dirimu, adalah lukisan abstract Maha Maestro yang tak terjemahkan, yang akan memberimu kekuatan dan semangat menjalani hidup.”

Kami terdiam beberapa saat, aku masih mencoba mengeja kata-kata yang diucapkannya. Menyatukan tiap huruf, tiap kata, menjadi sebuah kalimat yang terangkai bermakna. Dan saat sedikit demi sedikit aliran makna mengalir dalam otakku, aku sadar, ada dunia yang lebih luas daripada lautan Hindia di depanku ini.

Apakah ini yang dirasakan Bima didalam tubuh Dewaruci? Didalam telinga orang kecil itu, tersimpan dunia yang luar biasa luas dan nyata. Lalu betapa banyak orang yang telah mengisi dunianya dengan congkak dan culas, hingga dia merasa dunia begitu sempit terhimpit benda-benda.

Nasib memiliki semuanya, namun ia sekaligus tak memiliki apa-apa. Dia adalah sebuah kehampaan, namun tetap bisa disebut. Kadang juga bisa dipersalahkan. Lalu kenapa lebih banyak yang ingin untuk memiliki semuanya? Tidak bisakah kita seperti Putri Mandalika yang ingin dimiliki semuanya? Namun saat menjawabnya, kita menampar wajah kita sendiri.

Dan ketika aku menuruni bukit, saat malam mulai merayap. Ombak tak pernah berhenti, angin tetap mengalir, dan sejarah tetap berjalan.

Mentari tenggelam untuk kembali terbit di esok hari…

Advertisement

3 Responses to “Berbagi”

  1. Eru said

    *bersenandung*

    Sudah nasib..

    kadang dipersalahkan

    kadang direlakan

    Ah gw cuma manusia *sheeet* >_<

  2. Yuan said

    Curiga dpt inspirasinya pas lagi trip ke pantai kuta lombok. Wah keren…

  3. Wua….tulisan yang bagus :)
    semakin menegaskan untuk lebih merasakan saripati kehidupan yang ditawarkan dunia padaku..dan makin terpacu untuk melengkapi puzzle kehidupan yang makin penuh warna… ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.