Api yang tak kunjung padam
April 14, 2009
Jika kita menengok tentang stamina dari idealisme seseorang, kita akan menengok pada Gandhi. Seberapa lama waktu yang dibutuhkan hingga ’satyagraha’ mampu untuk membariskan orang sejauh 400 KM? Dia, Mohandas Karamchand Gandhi, menang karena kembali berjalan setelah jatuh tersandung, karena dia bangkit setelah melalui beberapa kegagalan.
Aku yakin, pada tanggal itu, 12 Maret 1930, dia mulai berjalan dari Gujarat hanya dengan beberapa orang. Suatu langkah sederhana, meninggalkan jejak yang sedemikian panjang. Mengajak sedikit demi sedikit, orang per orang, dan akhirnya menggerakkan sebuah negara. Ribuan langkah rakyat, yang menyatu dalam satu tujuan, pada akhirnya menjadi sebuah bentuk kekuatan luar biasa. Keberhasilan seperti itu begitu mudah diingat, namun ingatkah kita berapa dosis suplemen semangat yang perlu dikonsumsi? Berapa besar kekuatan untuk menjaga idealisme? Berapa kegagalan yang harus dialami? Namun sebanyak kegagalan yang dia alami, sebanyak itu pula bangkit dan kembali berjalan. Dan kata-katanya masih bergaung: “Biarkan pemerintah menegakkan peraturan, menggunakan senjata untuk melawan kita, mengirim kita ke penjara, atau menggantung kita, tapi berapa besar arti hukuman? Coba dan hitunglah berapa banyak waktu yang dibutuhkan penguasa Inggris untuk menggantung 300 juta orang.”
Ada begitu banyak orang memang yang dengan tujuan baik tiap kali jatuh, kembali bangkit, dan kembali jatuh hingga akhirnya, seperti kata Chairil, pada akhirnya menyerah. Tetapi mereka telah mencoba, sekali berarti sudah itu mati, juga kata Chairil. Setelah berhasil membentuk sebuah Medan Priyayi dan Syarikat Dagang Islam, RM Tirto Adi Suryo akhirnya kalah. Kisah lindapnya kejayaan Tirto Adi Suryo ini, begitu indah diceritakan dalam tetralogi Buru. Namun hidup memang selalu terdiri dari menang dan kalah, hanya mereka yang punya tujuan dan tekad, merekalah yang hidup. Mereka yang punya idealisme dan bisa menjaganya hingga akhir, merekalah yang berhak mengklaim sebagai ‘agent of change’. Dia memang tidak terlalu dikenal hingga saat ini, dia memang tak tercatat sebagai seorang pahlawan, tapi dia memulai saat yang lain masih tenggelam dalam mimpi.
Dan 9600 kilometer bukanlah jarak yang dekat, mungkin karena itu pula, dia Mao Zedong berkata bahwa revolusi bukanlah sebuah jamuan makan. Jarak yang hampir 10 ribu kilometer itu terpaksa dia tempuh setelah mengalami kekalahan. Revolusi, perubahan, adalah sebuah proses yang berisi kekalahan dan bangkit kembali. Adalah sebuah perjalanan, dan pasti berisi pengorbanan. Semua itu hanya untuk membuat seribu bunga mekar.
Ide, kadang memang tampak sebagai sebuah hal yang konyol. Dan orang yang menjalankan ide tersebut, sering juga bisa dianggap gila. Namun semua akan serentak diam ketika ide yang konyol itu meraksasa, membawa kebesaran. Mereka yang pernah membaca buku tentang makro ekonomi pun, mungkin tidak memahami potensi ibu-ibu rumah tangga yang diam dirumah. Memang untuk hitungan personal, berapa besar sumbangan prosentase yang dapat mereka berikan bagi peningkatan ‘Gross Domestic Bruto’ sebuah negara? Namun, para ibu-ibu yang bergabung dengan Grameen Bank itu, mengangkat grafik, meningkatkan kesejahteraan. Ibu-ibu rumah tangga itu tidak datang dengan sendirinya, mereka dijemput oleh para petugas Grameen yang berjalan berkilo-kilo. Perdamaian tercipta, seperti ‘three cups of tea’ di pegunungan himalaya.
Perjuangan masih panjang, dan mereka semuanya menemukan kejayaan. Apakah kita masih tidak mengakui bahwa mereka semua berhasil mengais kejayaan karena mereka semua telah berjalan? Karena mereka selalu bangkit dari kejatuhan. Karena mereka akan bilang 10 ribu kegagalan sebagai penemuan atas 10 ribu jalan yang buntu, sehingga dia terus mencari jalan yang lain. Mereka adalah yang tak lekang semangat hanya karena sebuah kekalahan. Karena mereka percaya ada puncak gunung yang mesti didaki sebelum sinar mentari lindap tenggelam di cakrawala.
Kuta, 13 April 2009 dan Sanur, 14 April 2009
Berbagi
March 24, 2009
Posting dari draft yg udah lumayan lama. rada ngawur seh, nyoba2 aja
===================
Pantai Kuta – Lombok
Sejarah berawal dari sini, dari sebuah bukit di pantai Kuta, putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut. Dia berikrar, bahwa dirinya akan dimiliki oleh semua masyarakat Lombok. Dan dari situlah legenda menyebar.
Aku berdiri di puncak bukit itu, sendiri. Debur ombak di bawah sana, memecah sunyi. Angin begitu kuat, hingga aku berpikir tubuhku yang kurus ini bisa diterbangkan angin. Dalam kesendirian itulah, diatas puncak tersebut, tempat yang tepat untuk bersetubuh dengan nasib. Nasib dan diriku menjadi sedemikian intim, manunggal nyawiji, dan itu justru terjadi di tempat yang begitu sepi dan jauh dari suatu tempat yang kusebut rumah. Saat aku merasa sendiri, saat itulah nasib berbisik diantara bunyi ombak dan deru angin, “Aku ada disini, bersamamu, disampingmu, dan akan selalu begitu”.
Engkau nasib, kepada siapa kamu berpihak, tanyaku.
“Aku tidak dimiliki siapapun, namun aku memiliki siapapun. Aku tak berpihak pada apapun, kecuali pada diriku sendiri”, nasib bicara seperti sebuah angin yang melintas, namun begitu jelas terdengar.
Aku yang masih terengah ketika mendaki bukit, mendapati tanyaku diantara sengal. Dapatkah kau cerita padaku tentang dirimu berhubungan dengan aku?
“Diriku adalah bayangan yang berwujud, mengikutimu dari tempat yang paling terang, hingga pada kegelapan total. Aku tahu ceritamu dari sebelum apa yang kau sebut awal dan lebih daripada yang kau sebut dengan akhir. Namun aku takkan bicara padamu tentang dirimu, karena aku juga sebuah wujud dalam bayangan, aku adalah kegelapan hijab halimun yang akan segera hilang jika sinar pencerahan telah menyebar. Dan rahasia pada diriku tentang dirimu, adalah lukisan abstract Maha Maestro yang tak terjemahkan, yang akan memberimu kekuatan dan semangat menjalani hidup.”
Kami terdiam beberapa saat, aku masih mencoba mengeja kata-kata yang diucapkannya. Menyatukan tiap huruf, tiap kata, menjadi sebuah kalimat yang terangkai bermakna. Dan saat sedikit demi sedikit aliran makna mengalir dalam otakku, aku sadar, ada dunia yang lebih luas daripada lautan Hindia di depanku ini.
Apakah ini yang dirasakan Bima didalam tubuh Dewaruci? Didalam telinga orang kecil itu, tersimpan dunia yang luar biasa luas dan nyata. Lalu betapa banyak orang yang telah mengisi dunianya dengan congkak dan culas, hingga dia merasa dunia begitu sempit terhimpit benda-benda.
Nasib memiliki semuanya, namun ia sekaligus tak memiliki apa-apa. Dia adalah sebuah kehampaan, namun tetap bisa disebut. Kadang juga bisa dipersalahkan. Lalu kenapa lebih banyak yang ingin untuk memiliki semuanya? Tidak bisakah kita seperti Putri Mandalika yang ingin dimiliki semuanya? Namun saat menjawabnya, kita menampar wajah kita sendiri.
Dan ketika aku menuruni bukit, saat malam mulai merayap. Ombak tak pernah berhenti, angin tetap mengalir, dan sejarah tetap berjalan.
Mentari tenggelam untuk kembali terbit di esok hari…
Kepahlawanan yang pudar
February 22, 2009
Negara ini dilahirkan dari ujung bedil, dari darah pahlawan yang mengering, dari keringat-keringat perjuangan yang menguap. Lahir dari jiwa-jiwa yang pantang menyerah untuk sebuah cita-cita yang besar, yang mengisi hatinya dengan semangat membara, yang merelakan dagingnya menjadi santapan pelor penjajah. Perang, dalam masa itu, merupakan pilihan terbaik, perdamaian, adalah impian yang dibangun dan diawali dengan perang untuk kemerdekaan tersebut. Kita semua tahu, mimpi itu telah tercapai, tetapi sekarang ada mimpi yang lain, dan mimpi tentang kemerdekaan bukanlah mimpi generasi ini, mimpi tersebut sudah basi, sebaiknya diceritakan sebagai dongeng di pelajaran sejarah, atau mungkin disebuah buku berdebu di perpustakaan Negara.
Kita sering suka lupa akan besar jiwa mereka, para pahlawan tersebut. Kita lebih suka mendambakan pahlawan yang lebih modern, lebih elit, berjas rapi yang turun dari sebuah limousine, yang memegang sebuah gadget paling modern. Kita tidak membutuhkan fosil sebagai bentuk pahlawan, atau nama-nama yang terukir di prasasti-prasasti yang ditulis diatas marmer kusam. Dan kita tahu juga, pemikiran seperti ini tak akan mengoyak mereka, toh mereka sudah tidak ada lagi hati dan daging. Kita ini generasi kurang ajar, generasi malin kundang pada ibu sejarah, ibunya para pahlawan.
Sudah lagi tak ingat kebesaran sebuah bangsa adalah penghargaan kepada para pahlawannya. Rumus lain penilaian kebesaran bangsa telah dibangun, peran para pahlawan disisihkan. Bukankah para pahlawan kini cuma pantas sebagai iklan politik lima tahunan? Dan mungkin beberapa tahun lagi, artis akan sebagai ganti para pahlawan tersebut. Mereka yang cantik, yang cakep, memang terlihat lebih enak dilayar kaca, bisa lebih menabur mimpi. Dan wajah yang bersih itu terasa lebih dekat dari mereka yang telah terbenam di kalang tanah.
Aku masih ingat beberapa, gambar-gambar pahlawan Nasional di buku sejarah waktu masih SD. Ada yang memegang keris, bambu runcing, mandau, dan tombak. Mereka tampak jauh, ruang kosong waktu terbentang lebar diantara aku dan wajah-wajah itu. Dalam imajinasiku mereka berkata dengan nada sendu “Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi, tak bisa teriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi…”. Suara itu kini semakin lemah, terserak diantara deru sinetron dan iklan pemilu.
Mereka mungkin tak minta harga, mereka menjual murah nyawa dengan berharap bahwa akan ada masa depan yang lebih baik bagi anak cucunya, bagi generasi-generasi baru yang lahir dari udara kemerdekaan, bagi sebuah bangsa yang akan disegani diseluruh dunia. Apakah mereka terlalu banyak berharap?
Nada suara mereka makin muram saat berkata “…Kami sudah coba apa yang kami bisa, tapi kerja belum selesai, belum apa-apa…”
Apakah mereka putus asa ketika spongebob dan Patrick lebih dikenal oleh bocah-bocah daripada nama mereka?
…………………
Tak peduli harga
Tak peduli nyawa
Lahirku di depan mata
Kecewalah para pengelana, yang sirna dibelantara.
Violachie
Kuta, Pebruari 2009
sejarah tentang sejarah
February 18, 2009
Mencoba memposting draft yang mengendap dari agustus 2008
……………………………………………………………………………………….
Sejarah, baik berupa keberhasilan maupun kegagalan selalu memberikan pelajaran. Bukankah selain pengalaman adalah guru yang terbaik, kita juga pernah mendengar kelebihan orang tua adalah mereka memiliki kesalahan yang tidak dimiliki seorang muda. Sejarah memberi kita pengetahuan tentang bagaimana sebuah kesuksesan masa lalu diraih, atau sebaliknya dapat menghindar dari kesalahan dan kegagalan masa silam.
Sejarah selalu menyajikan sebuah kisah, terlepas benar atau tidaknya. Herodotus of Halicarnassus, konon dia disebut sebagai father-nya history, pun mengakui bahwa sejarah yang dia tulis hanyalah pesanan penguasa. Tetapi dengan semua itu, bukankah berarti jika belajar pada sejarah hanya akan berkaca pada cermin buram dengan bayangan yang terpendar? Lalu dimanakah JAS MERAH yang sempat berdengung?
Sejarah adalah kekuatan lain dari sebuah kekuasaan. Sebuah legalitas dari sebuah keputusan. Seringkali pengesahan sebuah tindakan dibarengi dengan manipulasi sejarah. Andai saja Ki Ageng Pemanahan tidak meminum air kelapa muda yang keramat itu, keturunannya bukanlah raja-raja “yang direstui” di tanah jawa. Napoleon bikin patung gajah yang besarnya segajah (seperti disinggung singkat oleh Victor Hugo dalam Les Miserables sebagai sebuah misteri) untuk mencoba menghapus ingatan sejarah dan memancangkan propaganda kebesaran tahtanya. Namun sayang sekali, sejarah kelam begitu alot tercerna dan akhirnya kaisar 100 hari itu jatuh dari tahta.
Jika kita menilik dari kitab suci agama-agama samawi, orang pertama yang lahir ke dunia adalah Nabi Adam. Entahlah sudah berapa ribu tahun semenjak itu hingga abad ke 21 ini seberapa panjang benang sejarah kemanusiaan telah dibentangkan, kadang kusut disana-sini dan bercabang, sejarah memang tidak mengenal shampo dan rebounding.
Sejarah dalam arti sesungguhnya adalah pengalaman, walaupun pribadi, setiap orang. Sejarah yang valid seharusnya mencakup semua hal, baik kisah yang dialami seorang raja, maupun seorang gembel. Hanya saja manusia cenderung untuk melihat sebuah hal yang wah, mewah, berkuasa, menggetarkan, berdarah-darah, dan tentu saja juga menggoda. Dan kisah-kisah mereka dari golongan kasta rendah, hanya tersimpan dalam memori otak mereka sendiri yang segera akan hilang bersama kematian. Yah boleh dibilang paling banter buat anak cucu lah, ga lebih.
Semua orang dari tiap strata berusaha merangkak ke strata di atasnya, menjangkau mimpi dan harap. ada yang jatuh, hancur. Namun ada yang berhasil menggapai puncak, menyematkan bintang dirinya di angkasa raya sekaligus juga menuliskan kisahnya dalam sejarah dengan tinta emas. Diantara buku-buku tebal yang berdebu di perpustakaan dan museum, ada kisah yang tak disebut. Kisah yang diam, terbuang, meski sebenarnya memberi lebih banyak pelajaran.
Berilah sejarah sebuah bentuk, tempatkan dirimu diatasnya, dan itulah jalan menuju singgasana…